Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025
  Bab 3 Tubuh yang Diadili, Jiwa yang Bertahan Hal pertama yang mereka serang bukan pikiranku. Bukan juga logikaku. Yang diserang adalah tubuhku dan makna yang ditempelkan padanya. Tubuh perempuan di masyarakat ini jarang benar-benar milik dirinya sendiri. Ia selalu merasa berhak ditafsirkan, dikontrol, dihakimi, dimaknai orang lain. Ketika seorang perempuan berani melawan, mengoreksi, bertanya, atau memilih jalan hidup yang berbeda, tubuhnya menjadi sasaran utama. Seolah-olah tubuh adalah pintu masuk termudah untuk meruntuhkan jiwanya. Aku mengalaminya. Mereka tidak berhenti pada persoalan yang sebenarnya: utang, tanggung jawab, dan kejujuran. Sebaliknya, mereka mengalihkan semua ke arah yang paling kejam: mereka mengotori tubuhku dengan kata-kata. Mengobrak-abrik integritasku. Mengusik pilihan hidupku.  Tubuhku dijadikan medan hinaan. Imanku dijadikan bahan ejekan. Pilihan hidupku dijadikan bukti “kerusakan”. Seolah-olah nilai seorang perempuan ditentukan oleh seberapa cocok...
Bab 2 Perempuan, Tubuh, dan Budaya yang Selalu Menyalahkan Ada sesuatu yang lebih besar dari kata-kata kasar yang mereka lontarkan kepadaku. Sesuatu yang tidak berhenti pada satu-dua orang saja. Sesuatu yang berakar dalam budaya patriarkal yang telah lama mengendap, mengeras, dan diwariskan sebagai sesuatu yang “normal”. Tidak semua orang berani menyebutnya. Lebih banyak yang memilih diam. Atau lebih buruk lagi: ikut membenarkannya. Ketika seseorang berani memanggilku anjing, babi, biadab, otak kotor lmereka tidak sedang menyerang “Individu” semata. Mereka sedang menyerang perempuan yang berani bersuara, mengoreksi, dan menolak tunduk. Di masyarakat seperti ini, perempuan yang diam disebut baik. Perempuan yang patuh disebut bermoral. Perempuan yang tidak melawan disebut saleh. Tapi perempuan yang bertanya? Perempuan yang menuntut keadilan? Perempuan yang menolak dikendalikan? Langsung dicap: kurang ajar, rusak, kotor, tak pantas, liar, bahkan tidak layak menjadi seorang biarawati, tida...

Perempuan yang Menolak Dibungkam

BAB 1 Ketika Kata-Kata Menjadi Luka Ada masa dalam hidup ketika saya hanya ingin menarik satu demi satu benang kusut yang tak pernah saya bayangkan akan menjadi serumit ini. Semua bermula setelah akhir Juli sebuah kepulangan yang seharusnya sederhana, penuh kehangatan, dan menjadi jeda yang menenangkan dari rutinitas hidup yang padat. Saya pulang berlibur ke kota E, lalu tinggal sekitar sepuluh hari di kampung, di rumah orang-orang yang selama ini saya anggap dekat. Hubungan kami sebenarnya baik, hangat, penuh kepercayaan. Tidak ada rasa curiga. Tidak ada prasangka. Bahkan ketika salah satu dari mereka hampir tidak menegur saya sama sekali, saya tetap berpikir: mungkin dia sedang lelah, mungkin ada masalah pribadi. Saya tidak mempersoalkannya. Sejak awal saya sudah jujur. Saya mengatakan bahwa saya tidak membawa oleh-oleh, karena baru saja menjadi korban penipuan. Uang saya lenyap. Mereka mendengar itu. Mereka tahu. Mereka memahaminya atau setidaknya, saya kira mereka memahaminya. ...