Bab 2
Perempuan, Tubuh, dan Budaya yang Selalu Menyalahkan
Ada sesuatu yang lebih besar dari kata-kata kasar yang mereka lontarkan kepadaku.
Sesuatu yang tidak berhenti pada satu-dua orang saja.
Sesuatu yang berakar dalam budaya patriarkal yang telah lama mengendap, mengeras, dan diwariskan sebagai sesuatu yang “normal”.
Tidak semua orang berani menyebutnya.
Lebih banyak yang memilih diam.
Atau lebih buruk lagi: ikut membenarkannya.
Ketika seseorang berani memanggilku anjing, babi, biadab, otak kotor lmereka tidak sedang menyerang “Individu” semata. Mereka sedang menyerang perempuan yang berani bersuara, mengoreksi, dan menolak tunduk.
Di masyarakat seperti ini, perempuan yang diam disebut baik.
Perempuan yang patuh disebut bermoral.
Perempuan yang tidak melawan disebut saleh.
Tapi perempuan yang bertanya?
Perempuan yang menuntut keadilan?
Perempuan yang menolak dikendalikan?
Langsung dicap:
kurang ajar, rusak, kotor, tak pantas, liar, bahkan tidak layak menjadi seorang biarawati, tidak layak dianggap perempuan baik-baik.
Aku menyaksikan dan mengalaminya sendiri.
Ketika aku menolak diperlakukan semena-mena…
ketika aku menagih tanggung jawab…
ketika aku berdiri untuk hakku sendiri…
Yang mereka persoalkan bukan perbuatannya.
Yang diserang adalah diriku sebagai perempuan.
Tubuhku dijadikan hinaan.
Pilihan hidupku dijadikan lelucon keji.
Imanku dipertanyakan. Martabatku dirobek.
“Masuk biara, sudah mengenakan jubah tapi bacuki dengan Pater.”
“Tidak pantas jadi suster.”
“Otaknya kotor.”
Kata-kata ini tidak lahir dari kepedulian.
Ia lahir dari hasrat lama untuk mengontrol tubuh dan suara perempuan.
Namun, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa sebagian dari kata-kata itu tidak datang dari laki-laki.
Ia datang dari seorang perempuan.
Seseorang yang, mungkin seharusnya, lebih mengerti bagaimana rasanya menjadi sasaran penilaian, hinaan, dan penghakiman.
Namun entah karena luka yang tak selesai, ketakutan untuk berbeda, atau keinginan untuk diterima di dalam sistem yang menindas itu, ia memilih berdiri di sisi budaya yang melukai perempuan, bukan di sisi sesamanya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu yang pahit:
Budaya patriarkal tidak hanya menindas perempuan.
Ia juga mengajarkan sebagian perempuan
untuk ikut menjadi penjaga bahkan pelaku penjajahan terhadap sesamanya.
Masalahnya bukan pada jenis kelamin pelaku.
Masalahnya adalah sistem nilai yang rusak
dan berhasil meresap ke dalam siapa pun
yang tidak sempat atau tidak mau — menggugatnya.
Namun justru dari situ aku mulai melihat segalanya lebih jelas.
Aku mungkin terluka.
Aku mungkin menangis.
Aku mungkin gemetar saat membaca setiap makian itu.
Tapi aku tidak runtuh.
Kekerasan verbal mereka tidak membunuhku.
Ia hanya memperlihatkan dengan sangat telanjang
siapa diri mereka sebenarnya.
Dan perlahan aku mengerti:
Menjadi perempuan di dunia yang patriarkal ini
bukan berarti aku harus diam,
bukan berarti aku harus mengalah,
bukan berarti aku harus memikul semuanya sendirian.
Aku tidak akan melawan dengan cara yang sama kotornya.
Aku tidak akan turun ke dalam kebencian.
Aku akan bangkit
dengan kesadaran,
dengan pikiran jernih,
dengan kata-kata,
dengan martabat.
Karena perempuan yang menolak dibungkam
bukan perempuan yang berisik tanpa arah,
melainkan perempuan yang tahu siapa dirinya
dan tahu kebenaran apa yang layak diperjuangkan.
Mereka boleh menempelkan label apa saja padaku.
Tapi aku tahu kebenaran ini:
Aku bukan anjing.
Aku bukan babi.
Aku bukan perempuan kotor.
Aku adalah perempuan
yang sedang belajar berdiri kembali
di atas harga dirinya sendiri.
Dan itu
tidak bisa mereka renggut.
Komentar
Posting Komentar