Bab 3

Tubuh yang Diadili, Jiwa yang Bertahan

Hal pertama yang mereka serang bukan pikiranku.

Bukan juga logikaku.

Yang diserang adalah tubuhku dan makna yang ditempelkan padanya.

Tubuh perempuan di masyarakat ini jarang benar-benar milik dirinya sendiri. Ia selalu merasa berhak ditafsirkan, dikontrol, dihakimi, dimaknai orang lain. Ketika seorang perempuan berani melawan, mengoreksi, bertanya, atau memilih jalan hidup yang berbeda, tubuhnya menjadi sasaran utama. Seolah-olah tubuh adalah pintu masuk termudah untuk meruntuhkan jiwanya.

Aku mengalaminya.

Mereka tidak berhenti pada persoalan yang sebenarnya: utang, tanggung jawab, dan kejujuran.

Sebaliknya, mereka mengalihkan semua ke arah yang paling kejam:

mereka mengotori tubuhku dengan kata-kata.

Mengobrak-abrik integritasku.

Mengusik pilihan hidupku.

 Tubuhku dijadikan medan hinaan.

Imanku dijadikan bahan ejekan.

Pilihan hidupku dijadikan bukti “kerusakan”.

Seolah-olah nilai seorang perempuan ditentukan oleh seberapa cocok ia dengan standar moral ciptaan orang lain.

Aku sadar, dalam masyarakat patriarkal, tubuh perempuan tidak pernah dibiarkan netral. Ia selalu diperebutkan maknanya. Ia harus suci tetapi tidak lebih bebas dari kontrol. Ia harus kuat tetapi tidak lebih berani dari laki-laki. Ia harus cerdas tetapi tidak boleh terlalu lantang. Ia harus taat tetapi diminta untuk memikul segalanya.

Maka ketika aku berdiri, bersuara, menuntut tanggung jawab, yang muncul adalah refleks lama masyarakat: merendahkan tubuh untuk mematikan suara.

Namun yang tidak mereka duga adalah ini:

Aku mendengar kata-kata itu.

Aku merasakannya mengguncangku.

Aku menangis di ruang yang tak mereka lihat.

Tapi aku tidak kehilangan diriku sendiri.

Ada bagian dari diriku yang berkata pelan namun kokoh:

Tenang. Ini tentang mereka, bukan tentangmu.

Dan kalimat itu walau sederhana — menyelamatkanku berkali-kali.

Aku mulai mengerti sesuatu yang penting:

Orang yang paling kasar sering kali adalah

orang yang paling takut.

Orang yang paling suka mengotori orang lain

adalah orang yang tidak sanggup lagi menghadapi bayangan dirinya sendiri.

Kata-kata kotor yang mereka lempar

bukan gambaran siapa aku.

Ia adalah potret batin mereka yang retak.

Dan di situlah aku membuat pilihan:

Aku tidak akan membalas dengan kebencian.

Aku tidak akan menurunkan diriku ke level yang sama gelapnya.

Aku tidak akan memakai mulutku sebagai senjata untuk menghabisi orang lain.

Aku akan bertahan dengan cara yang lebih sunyi, lebih dalam, lebih bermartabat.

Aku belajar merawat diriku kembali.

Aku memeluk tubuhku yang lelah.

Aku membiarkan air mata turun tanpa menyalahkan diri sendiri.

Aku mengizinkan diriku marah—bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengenali batas.

Dan perlahan, dari luka itu, aku merangkai kembali diriku.

Aku bukan tubuh yang kotor.

Aku bukan jiwa yang rusak.

Aku bukan perempuan yang pantas dihancurkan.

Aku adalah seseorang

yang sedang berjalan keluar

dari lingkaran penghinaan

menuju ruang yang lebih jujur

tentang siapa dirinya.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya,

aku benar-benar mulai mengerti:

Martabat seorang perempuan

tidak bisa direnggut oleh mulut siapa pun.

Ia hanya bisa runtuh

jika ia percaya pada kebohongan itu sendiri.

Aku tidak percaya lagi.

Aku memilih berdiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan yang Menolak Dibungkam